Pentingnya budaya baca, pepatah
mengatakan buku adalah gudangnya ilmu dan membaca adalah kuncinya. Kunci inilah
yang sekarang hilang dalam tradisi pendidikan kita saat ini. Sebenarnya semua
permasalahan atau kemelut pendidikan bisa diselesaikan dengan membaca. Karena
membaca adalah esensi dari pendidikan. Secara kasarnya mungkin lebih baik tidak
sekolah atau kulliah tapi memiliki kegemaran yang tinggi dalam membaca,
daripada menjadi anak sekolahan atau kuliahan tetapi tidak memiliki tradisi
membaca yang baik.
Sejarah telah memberikan bukti
kepada kita bahwa banyak orang yang sukses walaupun bermasalah dalam sekolahnya
seperti budayawan indonesia Ajip Rosadi dan Emha Ainun Nadjib yang mereka ini
hidup tanpa ijazah tetapi mereka semua sukses karena membaca bukan karena
sekolahan. Tentu dalam hal ini bukan maksudnya tidak penting untuk sekolah atau
kuliah, tepatnya itu merupakan contoh dan peringatan betapa pentingnya perlu
dibangun tradisi membaca bagi pelajar.
Sekarang ini perlu kita sama-sama
cermati bahwa, tanpa dibarengi dengan tradisi membaca yang baik, institusi
pendidikan tinggi tidak dapat dijadikan jaminan untuk menjadi orang sukses
dikemudian hari. Malahan boleh dikatakan bahwa institusi yang paling banyak
memproduksi pengangguran adalah institusi pendidikan.
Oleh karena itu guna mengatasi
permasalahan lemahnya minat baca tersebut harus ada keterlibatan pemerintah
baik pusat maupun daerah, terkhusus dinas terkait agar memberikan sarana berupa
tempat dan bahan bacaan. Penting juga diperhatikan pemerataan sarana tersebut,
jangan hanya dikota-kota saja, tetapi pedalaman seperti perkampungan juga perlu
dupasilitasi.
Kemudian sangatlah penting
menumbuhkan kesadaran membaca guna memperbaiki kualitas hidup. Salah satu
penyebab tidak mau membaca biasanya karena tidak ada kesadaran bahwa pentingnya
membaca dalam diri seseorang. Menyediakan sarana memang penting tetapi bukan
satu-satunya cara untuk merangsang minat baca masyarakat. Selain dengan
menyediakan sarana, pemerintah mungkin bisa juga mengintruksikan kepada tenaga
pengajar, pejabat pemerintahan seperti kecamatan dan desa untuk bisa mencanangkan
program kemudian mensosialisasikan betapa pentingnya menanamkan dan membiasakan
diri untuk membaca.
Penulis: Dirman Nurjaman
0 komentar:
Posting Komentar